Mak,,,
terimakasih terimakasih terimakasih terimakasih terimakasih terimakasih,,,,
seribu kali ucapan terimakasih seakan tak cukup untuk membalas segala pengorbanan dan kasig sayang yang engkau berikan, aku hanya secuil darah yang kau emban dalam kandungan, kau lahirkan dengan penuh pengorbanan, kau rawat aku hingga aku kini menjadi sosok gadis remaja yang takkurans suatu apapun.
maaf...maaf...maaf,....maaf..
seribu kata maaf juga tak kan mampu menebus kesalahan ku terhadapmu,
kenakalanku, sering merepotkan engkau, bahkan mungkin ku pernah menyakiti hatimu..
maaf mak..
hanya kata itu yang bisa aku ucapkan untukmu,,
maaf jika hingga umur 20 tahun ini aku tak mampu membuat engkau bangga,
aku tak seperti anak kebanggaan orang tua yang lain, yang mampu memperoleh berbagai penghargaan dari bakat dan kepandaian merekan, bahkan haya untuk memperoleh gelar anak pandai yang memiliki rangking di kelas saya aku tak bisa, entah karena aku memang benar - benar tak mampu ataukah hanya karena kelalaianku menuruti nasehatmu untuk banyak belajar . . . .
maaf,,,, kata itu lagi yang bisa aku ucapkan, karena sampai kini aku tak bisa memberikan sepeser uang hasil jerih payahku sendiri bakal seratus rupiahpun kepadamu.
aku hanya bisa mengeluh ketika lelah membantu sedikit pekerjaan yang engkau emban
aku hanya mampu memita ketika menginginkan sesuatu,
aku merasa hanya mampu merepotkanmu membuat sakit hatimu mungkin
aku hanya mampu mengeluh ketika aku merasa engkau tak mempedulikanku, menyalahkanmu ketika aku merasa dunia tak lagi berpihak padaku.
aku tahu betapa sesungguhnya engkau sangat mengasihiku
aku berharap suatu hari nanti aku bisa membuatmu bangga, meski entah kapan hal itu dapat aku lakukan
karena hingga saat ini aku merasa masih menjalani hidup kekanak - kanakan,
bukan karena aku tak sadar akan pengorbanan keluarga yang begitu besar untuk membuat aku bahagia,
namun entahlah,,,,, akupun tak tahu mengapa aku menjadi seperti ini??
selagi teman - teman sebayaku telah bekerja untuk membalas pengorbanan keluarga, aku masih saja tak bergeming, masih merepotkan semuanya..
itu benatr -benar karena keegoisanku, aku juga berpikitr untuk membalas semua itu..
aku berharap engkau sabar menunggu hingga saat inu tiba
saat di mana aku benar - benar mampu berdiri tegak tanpa harus engkau topang,
bersabarlah menunggu mak.....
aku sedang berusaha meyakinkan hatiku, bahwa saat itu akan segera tiba...
Bapak,,,
saat kecil aku mengenalmu sebagai orang kasar, bahkan mungkin kurang bertanggung jawab
kini aku tahu engkau tak seburuk itu, engkau tak seperti anggapanku
trimakasih atas esmua pengorbanan dan usahamu menghidupi kami (limaorang anak perempuan), membimbing kami hingga kini semua dewasa.
karena aku tahu betapa berat beban rang tua ubtuk melindungi dan menjaga anak perempuanya dari kejamnya keburukan dunia,
engkau telah berhasil bapak,, engkau berhasil mendidik kami dengan baik
meski saat ini engkau merasa anak - anakmu belum memaafkanmu atas kesalahan kecil yang engkaulakukan, namun yakinlah pengorbanan besar yang telah engkau lakukan selama hidupmu tak kan pernah terbuang sia - sia,suatu hari nanti kakak - kakakku pasti sadar betapa lebih besar pengorbananmu dibandingkan kesalahan itu.
aku tahu engkau tak pernah merasa menyesal ata s semua pengorbanan itu,
karena itu jangan pernah merasa kami tak menganggapmu, kami menganak tirikanmu dari ibu.
itu tak akan pernah terjadi, meski aku tak tahu apa yang tersembunyi dari hati kakak2ku namun aku yakin mereka masih meyangaimu seperti dulu.
tegarlah bapak,,, tetaplah menjadi lelaki perkasa dalamkehidupan kami,,
tunggu dan bersabarlah untuk menyambut aku memberikan secuil kebahagiaan untukmu,
itu mohon untuk menunggu saat itu tiba,,,,,,
Mbak Rin,,
maaf telah benar benar membebanimu, maaf mungkin telah merusak rencana kehidupanmu.
jerih payahmu tak akan pernah aku lupakan, keringat itu akan kubayar, aku hanya ingin kau bersabarlah menunggu.
terimakasih ini benar - benar tak cukup untuuk membalas pengorbanan besar yang engkau lakukan,
meski kini engkau merasa sedikit sia - sia melakukan pengorbanan itu untukku. aku mohon teruslah percaya bahwa aku mampu membalas semua itu, meski aku tahu engkau tak butuh balasan dariku, engkau hanya ingin melihat aku menjadi orang berguna dan menjalani hidup yang lebih baik dari saat ini dan mempu membahagiakan dan membanggakan mak.e...
aku selalu berdoa untukmu di sana, semoga Alla selalu melindungimu dari hal - hal yang membuat engkau tak bahagia.
demi Allah jangan lagi engkau korbankan dirimu untuk kebahagiaanku,
hiduplah dengan indah...
hingga aku mampu menambahkan keindahan dalam warna hidupmu kakak... ribuan trimakasih dan cium sayang untukmu,,
Gerimis
sore itu tak lantas membuat Manda berhenti mengayuh sepedanya, meski telah
lelah seharian menjajakan kue buatan ibunya di antara hiruk pikuk setasiun.
Manda terus saja mengayuh sepeda tuanya sembari sesekali mengelap wajahnya yang
perih akibat guyuran hujan yang semakin deras. Dia hanya berpikir untuk
secepatnya sampai ke rumah, memberikan sedikit uang yang ia dapatkan hari ini kepada
ibunya dan segera kembali berkutat dengan tugas - tugas sekolahnya yang sengaja
ia lupakan sejenak dan berfokus pada pekerjaanya.
Baru saja
sampai di halaman rumah manda langsung saja berteriak memanggil kakaknya.
“kak..., kak
iman...” sambil celingak - clinguk mencari ke dalam rumah. Sosok anak laki –
laki yang berperawakan kurus keluar dari dalam kamar sembari menyimpulkan
senyum polosnya dan tatapan yang hampa, tetap terpaku di depan pintu kamar tak
lantas beranjak mendekat. Manda langsung saja menghapiri kakaknya dan
memberikan bungkusan berisi ice cream kesukaan kakaknya yang sengaja ia beli
untuk kakak yang sangat ia sayangi.
Iman
langsung saja mengambil bungkusan itu, tanpa berkata apapun ia melahap ice
cream kasukaannya itu, seolah tak peduli dengan apapun yang ada di sekitarnya.
Manda hanya tersenyum melihat exspresi kakaknya itu, sambil termenung.
“seandainya saja aku bisa membelikan kak Iman ice cream setiap hari” pikirnya
dalam hati. Memang jarang sekali Manda bisa membelikan Ice cream untuk kakaknya
itu, karena memang uang yang ia dapatkan sehari – hari harus ia tabung untuk
membeli kebutuhan sekolahnya dan melanjutkan ke universitas.
Berat memang
perjuangan yang harus dipikul Manda, sebagai seorang siswi SMA di harus bekerja
keras menghidupi kakak dan ibunya yang harus senantiasa berada di rumah untuk
menjaga kakaknya yang tak mampu membantu apapun karena penyakit downsindrome
yang dideritanya, namun itu semua tak lantas membuat Manda menyerah menghadapi
kehidupan ini. Dia terus bersemangat menjalani semua ini dan mengejar cita –
citanya menjadi seorang psikolog.
Demi
mewujudkan cita – citanya itu Manda harus bekerja sangat keras, selain membantu
ibunya menjajakan kue, apapun ia lakukan mulai menjadi SPG sampai memberikan
les privat di beberapa rumah tetangganya. Banyak tetangga yang simpati dengan
kehidupan yang dijalani Manda, apalagi sikap Manda yang selalu baik dan ramah
kepada siapapun.
“baik
tante nanti sore saya ke rumah tante” ujap Manda saat Tante Mira seorang
tetangganya meminta membimbing privat anaknya.
“baiklah
saya tunggu” ucap Tante Mira, sambil berlalu meninggalkan Manda yang sedang
sibuk bersiap – siap berangkat sekolah.
Karena
sudah telat Manda langsung saja berlari mengambil sepeda kayuhnya dan bergegas
berangkat.
“Assalamualaikum
bu, Manda berangkat” teriaknya sambil berlalu, mempercepat kayuhan sepedahnya
karena sudah hampir telat masuk sekolah.
Tet......tet......
Suara bel tanda pelajaran dimulai, Manda sudah siap dengan buku – buku
pelajarannya ketika Pak Wildan, guru matematika masuk kelas. Anak – anak mulai
hening dan segera mempersiapkam buku mereka.
“Manda tolong
bantu bapak mengumpulkan PR kalian” ucap pak Wildan.
Dengan segera Manda berdiri dan mengumpulkan PR teman – temannya untuk
diserahkan ke Pak Wildan. Memang sudah biasa Manda mendapat tugas seperti itu
dari guru – gurunya, karena kecerdasan dan sopan santunnya Manda di kenal oleh
guru – guru di sekolahnya. Bahkan tidak jarang Manda dimintai toong mengoreksi
tugas teman – temanya oleh para guru.
“Tok..Tok..”Suara
pintu diketuk dari luar membuyarakan konsentrasi anak – anak yang sedang
belajar. Hendry menampakkan wajahnya dari balik pintu sambil tersenyum dan
memberi salam pada Pak Wildan, seolah tidak merasa bersalah dengan tenangnya ia
melangkahkan kaki dan duduk di bangkunya.
“mana PRmu
Ndry..?? letakkan di meja” ucap Pak Wildan tidak mengalihkan pekerjaan
menulisnya di papan.
Hendry menaruh buku PRnya di meja guru, namun tak lantas duduk setelahnya.
Malah berpose di depan teman – temannya menirukan gaya Pak Wildan. Sontak saja
teman – teman satu kelasnya tak kuat menahan tawa.
“Ada apa
anak – anak?” Pak Wildan berpaling dari papan, menatap anak muridnya sambil
sambil berkaca pinggang.
Anak – Anak
tak lantas berhenti tertawa setelah diperingatkan Pak Wildan, Malah tawa mereka
semakin menjadi melihat gaya marah pak Wildan yang mereka anggap lucu. Memang
Pak Wildan adalah sosok guru yang tak gampang marah, sehingga anak – anak tak
akan bergeming ketika Pak Wildan sedang marah.
Manda segera
mengemasi barang – barangnya dan bergegas keluar ketika pelajaran sekolah telah
usai, ia ingin cepat – cepat pulang dan menggantikan ibunya menjaga kakanya.
Karena hari ini ibunya harus membantu tetangga yang sedang memiliki hajatan
atau orang jawa bilang selametan.
Tapi baru beberapa langkah beranjak, Brukk...
Manda terjatuh karena Hendry menyenggolnya, Hendry berdiri di
belakangnya sambil mengulurkan tangan dengan senyum tak bersalahnya sambil
meminta maaf. Manda tak menghiraukan uluran tangan Hendry dan segera beranjak
berdiri.
“Dasar
manusia jail, gak bisa liat orang tenang dikit aja” sungut Manda sambil
membersihkan roknya yang kotor.
“iya...iya..
maaf, gak sengaja. Niatnya kan Cuma bercanda, gitu aja marah. Nanti manisnya
ilang lo” Goda Hendry sambil memungut buku Manda yang berantakan.
“Dasar
nyebelin..!!!, udah aku lagi buru – buru. Da........” disabetnya buku di tangan
Hendry kemudian berlalu meninggalkan Hendry dan teman – temanya yang akhirnya
juga pergi meninggalkan ruang kelas yang memang sudah sepi.
Hari ini
Manda merasa sangat lelah, karena tadi malam dia bekerja sampai larut menjadi
SPG di suatu acara perayaan di salah satu kampus. Ia merasa malas untuk
melakukan aktifitas apapun hari ini, sehingga ia hanya bersenda gurau dengan
kakak kesayangannya sambil menyalakan musik di Hpnya.
Manda sedang
asik memperhatikan kakaknya yang berjoget diiringi alunan musik ketika tiba –
tiba ada panggilan masuk di Hpnya.
“Halo,
Manda..” suara di balik telephone
menyapa.
“iya, ada apa?” jawab Manda datar mengetahui nama yang muncul dari layar Hpnya.
“ada event lagi nih, mau ikut gak?” ucap Fitri dari seberang telefon.
“kapan? Di mana?” Manda balik bertanya
“Di Politeknik ada acara penutupan lomba basket se-Jember, bayarannya Rp
300.000,00 , kerjanya juga cuma sampi siang nanti” Bujuk Fitri
“beneran? Sebenarnya aku capek banget, tapi demi uang ya sudahlah tidak apa -
apa” jawab manda datar.
Benar saja
rayuan Fitri berhasil karena dia sudah mengerti Manda akan segera menjawab iya
jika gaji yang diberikan cukup besar. Maklumlah jarang ada kesempatan seperti
ini, apalagi bagi Manda uang Rp 300.000,00 dia harus mengajar les privat selama
hampir satu bulan.
“Baiklah
nanti aku jemput jam delapan ya? Da.....” tut...tut.. Fitri menutup telefonnya
tanpa menunggu jawaban dari Manda.
Suara sorak
sorai penonton di depan panggung seolah membuat Manda melupakan rasa letih yang menyerangnya tadi
pagi. Matanya tidak beralih dari penyanyi yang sedang perform di atas panggung,
mengalunkan lagu Sebelas Januari milik group band gigi dengan merdu.
“Dor..!!” suara Fitri mengagetkan Manda.
“Apaan sih Fit.. gangguin orang lagi nikmatin musik aja” Jawabnya tanpa
mengalihkan pandangan dari panggung.
“nikmatin musik apa nikmatin vokalisnya nih..??” Ledek Fitri yang sedari tadi
memperhatikan tingkah laku Manda di sampingnya.
“ah... udahlah..” Manda mengalihkan pembicaraan dengan melayani pembeli yang
baru saja datang ke stannya.
Manda baru
saja selesai dengan pekerjaannya ketika tiba – tiba seorang cowok tinggi putih
dengan rambut cepak mengagetkannya. “mbak ada kartu perdana yang gratis
selamanya gak mbak?” godanya pada Manda yang sedang menjaga stan salah satu
kartu perdana.
“oh.. ada mas, tapi mas harus pacaran sama pemilik konter pulsa, biyar beli
pulsanya gratis” Manda membalas
gurauannya.
“hehe.. mbak bisa aja, jadi pacarnya mbak aja saya mau” cowok itu melanjutkan
gurauannya, membuat Manda salah tingkah.
“pacaran sama temen saya aja tuh mas, lagi jomblo dan cari cowok mahasiswa”
ucap manda sambil memandang ke arah Fitri.
“alah... pake ngelak kamu Da, dari tadi juga merhatiin masnya terus, sekarang
di ajak pacaran tuh, terima aja” Fitri menggoda.
Mereka terus
saja berbincang dan bersenda gurau, sedangkan di antara riuhnya penonton Hendry
sedang memperhatikan Manda dari jauh.
Manda sedang
asik dengan pekerjaanya memasak ketika
ada suara pintu diketuk.
“Masuk aja le, Manda masih masak di dapur, sebentar ibu panggilkan” ibu Manda
mempersilahkan masuk sambil beranjak memanggil Manda.
“siapa bu’? ” tanya Manda ketika ibunya masuk ke dapur.
“Doni, sana temui biyar ibu yang lanjutin masaknya”
Manda keluar
dari dapur ketika Doni sedang mengajak Iman bermain. Memang sejak pertemuannya
di acara penutupan lomba basket Manda dan Doni menjadi teman akrap, apalagi
setelah Manda tahu kalau Doni itu adalah sepupu Fitri sahabatnya. Doni bahkan
tak jarang datang ke rumah Manda untuk sekedar bermain – main dengan Iman kakak
Manda.
“Makasi ya
mas” ucap Manda ketika suatu hari Doni mengantarkanya pergi ke sekolah.
“iya sama – sama, sana masuk kelas udah jam tujuh kurang lima menit lo” Kata
Doni sambil terus memperhatikan Manda berjalan memasuki gerbang sekolah.
Hendry berlalu
tanpa menghiraukan Manda ketika Manda sedang berbincang dengan Ifa teman satu
bangkunya.
“Hendry kenapa sih? Ahir – ahir ini dia kayaknya menghindari aku” tanya manda.
“ya gak tau Da, kan dari semua cewek di kelas yang paling akrap sama dia kamu.”
“iya sih, tapi kalau aku tanya dia pasti gak mau ngaku.” Manda terheran –
heran.
Memang
semenjak acara penutupan lomba basket di politeknik sikap Hendry berubah, dia
semakin sering menghindar dan jarang menjaili Manda, padahal sebelumnya sudah
menjadi jajanan sehari – hari bagi Manda merasakan kejailan Hendry. Jelas saja
hal ini membuat manda sedikit kecewa, karena diam – diam Manda menyimpan cinta
untuk Hendry.
Hari ini
adalah hari perpisahan di sekolah Manda, kesempatan terakhir untuk Manda untuk
bisa mengembalikan hubungannya dengan Hendry. Namun sikap Hendry tetap saja
tidak berubah, bahkan semakin cuek.
“Manda....”
sapa seseorang dari luar gerbang sekolah mengagetkan Manda yang sedang
berbincang dengan salah seorang temannya.
“Mas Doni, ngapan di sini mas?” Manda terheran – heran sambil menghampiri.
“mau jemput kamu, mungkin hari ini hari terakhir aku bisa ajak kamu jalan –
jalan, besok dan selanjutnya kamu akan sibuk mempersiapkan keberangkatanmu ke
Jogja”. Terang Doni.
Merekapun
pergi dari sekolah itu, samar – samar manda meihat Hendry memperhatikannya dari
kejauhan.
Hari ini
Manda sangat bahagia, besok akan berangkat ke Jogja, karena dia sudah diterima
di Universitas Gajah Mada di fakultas
psikologi melaui jalur beasiswa, memulai perjuangan baru demi meraih cita –
citanya menjadi seorang psikolog. Di sisi lain dia sangat sedih karena harus
meninggalkan ibu dan kakaknya dalam waktu yang cukup lama, dan sedih ketika
mengingat perasaanya belum tersampaikan.
Manda terus
mencoba menghubungi Hendry, namun nomernya tetap saja tidak aktif. Akhirnya
Manda pergi tanpa ada kata perpisahan yang bisa ia ucapkan untuk Hendry.
Empat tahun
sudah berlalu, Manda sudah menyandang gelar sarjana. Pak pos datang ketika
Manda sedang duduk – duduk mengobrol dengan iman dan Doni yang terus saja
menjadi sahabat setia meski sudah beberapa kali ditolak cintanya karena Doni
juga tahu Manda sanga mencinta hendry teman SMAnya.
“ada surat
untuk anda mbak” Pak pos menghampiri sambil menyerahkan amplop bewarna cokelat.
betapa girang hati manda ketika mengetahui isi amplop tersebut, karena isinya
menyatakan dia diterima dalam saringan beasiswa S2 untuk fakultas psikologi di
salah satu Universitas ternama di Amerika.
“aku mohon
jangan pergi” ucap Doni tiba – tiba, membuat Manda kaget.
“kenapa?” kata Manda heran.
“aku takut aku gak bisa liat kamu untuk yang terakhir kalinya” Doni berbicara
sambil tersenyum terpaksa.
“maafkan aku, aku hars pergi meninggalkanmu demi cita – citaku. hehehe” Manda
menaggapi Doni dengan bergurau, tanpa tahu bahwa umur Doni tidak akan lama
lagi, karena penyakit kanker kelenjar getah bening yang dideritanya.
Doni tak
pernah cerita tentang penyakitnya, sampai akhirya dia harus benar – benar
mendapatkanperawatan intensif di Rumah Sakit. Manda juga tak curiga ketika Doni
tidak pernah lagi datang ke rumahnya, barulah setelah Manda tak dapat
menghubungi nomer Doni selama beberapa hari, dia merasa sedikit resa. Hingga
akhirnya dia memutuskan untuk menelefon fitri, sepupu Doni sekaligus sahabat
Manda.
Betapa
kajetnya manda setelah mengetahui bahwa Doni dirawat di Rumah Sakit karena
kangker kelenjar getah bening yang dideritanya. Bersama Fitri manda pergi ke
rumah sakit mengunjungi Doni.
“Mas Doni
kenapa gak bilang sama Manda kalu mas sakit separah ini? Manda merasa menjadi
orang paling jahat, sahabat yang sering menghibur Manda saat Manda sakit, sedih,
dan merasa tak punya tumpuan terbaring sakit, Manda tidak pernah tahu.” Manda
berbicara panjang lebar sambil meneteskan air mata.
“sudahlah Da, jangan nangis lagi, aku gak mau liat kamu nangis makanya aku gak
pernah kasih tahu kamu tentang penyakitku. Aku sayang sama kamu Da” Doni
berbicara terbata – bata.
Seperti
biasa, semenjak hari itu Manda mengetahui penyakit Doni ia selalu mengunjungi
Doni di Rumaha sakit. Bagetupun dengan hari ini, Manda baru saja sampai di
depan pintu kamar Doni ketika tiba – tiba ia di kagetkan untuk yang kedua
kalinya.
“Hendry....????!!!!!” Manda tercengang masih tak beranjak dari pintu kamar.
“Manda, kenalkan ini adikku Hendry yang aku ceritakan sedang kuliah di STAN dia
baru pulang dari Jakarta tadi malam.” Ucap Doni tak mengerti kekagetan Manda
melihat Hendry sedang duduk di samping tempat tidur.
“kita udah
kenal ko’ mas, dia Manda cewek yang sering aku ceritakan sama mas dulu.” Hendry
tetap saja cuek seperti terakhir kali Manda bertemu dengannya.
Doni kaget
mendengar perkataan adik semata wayangnya itu, suasana kamar itu menjadi begitu
hening dan dingin. Jauh dari dalam hati Doni, ia merasa kecewa dan sedih
mengetahui kenyataan yang ada di hadapannya.
“Aku pulang
dulu mas, mau naruh baju kotor sekaligus aku ambil yang bersih di rumah.” Suara
Hendry memecah keheningan, kemudian beranjak dari tempat duduk tanpa menyapa
Manda yang masih terpaku, terdiam di sudut kamar.
Semakin hari
kondisi Doni semakin memburuk, seolah tidak ada harapan lagi baginya untuk
hidup.Dia semakin kurus dengan kepalanya yang selalu di balut penutup kepala,
menutupi rambutnya yang semakin hari habis karena pngaruh kemotherapi. Hingga
akirnya dia benar – benar harus pergi dari dunia ini.
Semenjak
kematian Doni, Manda dan Hendry kembali akrap seperti dulu, keduanya sudah
saling mengetahui tentang perasaan masing – masing. Karena sebelum meninggal
Doni telah menceritakan semuanya kepada Manda dan Doni. Doni sering bercerita
tentang cewek yang ia cinta yang tidak lain adalah Manda, begitupun sebaliknya
dengan Manda yang sering bercerita pada Doni tentang Hendry, bahkan ketika ia
menangis karena kepergian Hendry, Donilah yang senantiasa menghiburnya. Namun
Doni baru mengetahui Manda yang dicertakan adik kesayangannya adalah Manda yang
sama dengan cewek yang dia cintai.
Hubungan
Manda dengan Hendry memang semakin dekat saat itu, cinta mereka semakin besar.
Namun bukan berarti mereka dapat bersama – sama, karena Manda harus pergi ke
Amerika untuk melanjutkan studi S2.
“Kita baru
saja bertemu setelah bertahun – tahun aku memendam perasaan ini, menyimpanya
dalam hati, membiarkan kakaku mendekati dan mendapatkan cintamu” Ucap Hendry
tetap memegang erat –erat tangan Manda ketika mengantarkan Manda ke Bandara.
“Aku tahu, akupun juga begitu. Aku sakit jika harus pergi meninggalkanmu sejauh
ini. Tapi aku harus pergi demi cita –
cita yang selama ini aku impikan.” Manda hanya bisa menunduk menahan air
matanya yang hampir tumpah.
“Tunggulah aku beberapa tahun lagi, jaga selalu cintamu seperti dulu kau
menjaganya”. Dilepaskannya genggaman tanga Hendry sambil berlalu meninggalkan
Hendry.
“Tunggu
Da...” suara Hendry membuat Manda kembali memalingkan wajahnya.
Hendry menghapiri Manda, mendekat, menggenggam tangan Mnada kemudian dia kecup
kening gadis yang sanga t ia sayangi itu.
“Aku janji
akan selalu menjaga cinta ini untuk kamu, selamanya.” Hendry berbicara dengan
matanya yang berkaca – kaca.
Keduanya
saling melambaikan tangan dengan air mata yang menetes perlahan, berpisah untuk
waktu yang lama. Pergi menuju cita – ciya yang selama ini dia impikan.